Rabu, 30 September 2009

Penggunaan sistem homogen dan heterogen di Puslitbang SDA

Sesuai dengan pengalaman yang telah dilakukan pada saat melaksanakan tugas sebagai NSA (Network System Administrator) di Lingkungan Pusat Litbang Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum, terdapat kelebihan dan kekurangan dari kedua jenis sistem tersebut. Sesuai dengan urutan perkembangan jaringan dilingkungan pekerjaan kami maka diantaranya terdapat kondisi sebagai berikut:
  1. Penggunaan sistem homogen menggunakan sistem operasi Windows : menurut pengalaman pada saat pertama pengembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan sistem homogen menggunakan linux. Hal tersebut disebabkan Microsoft Windows pada era sekarang lebih dikenal oleh pengguna komputer, terutama di lingkungan Pusat Litbang SDA. Sehingga lebih mudah dalam mensosialisasikan pengetahuan jaringan kepada client (pengguna internet). Tetapi terjadi permasalahan pada saat jaringan sudah berkembang dan pengguna internet sudah banyak berinteraksi dengan situs-situs yang dapat menyebarkan virus, maka NSA menjadi kewalahan karena harus melakukan troubleshooting terhadap dampak virus tersebut. Apalagi karena faktor usia para pengguna internet (pada instansi pemerintah) yang biasanya masih banyak pengguna jaringan yang berusia lanjut yang jika mendapat masalah terhadap jaringan maka mereka akan menyalahkan NSA. Sehingga permasalahan virus akan menjadi pekerjaan tambahan bagi Administrator Jaringan dalam mebersihkannya terutama di komputer client. Permasalahan bukan disebabkan oleh virus yang tidak dapat dihilangkan, tetapi lebih kepada jumlah komputer yang tertular akan terus bertambah setelah salah satu komputer terinfeksi salah satu virus. Jika jumlah komputer yang terkoneksi dengan jaringan masih berkisar 10 - 20 komputer kemungkinan dengan 2 (dua) orang pengelola jaringan maka permasalahan tersebut dapat diselesaikan. Tetapi permasalahan timbul lagi pada saat jumlah titik jaringan terlalu besar dibadingkan dengan jumlah pengelola jaringan, sebagai contoh di Puslitbang SDA mempunyai client yang aktif terkoneksi ke dalam jaringan berjumlah 243 buah komputer, sedangkan pengelola jaringan yang ditugaskan hanya 4 orang dan itupun hanya satu orang yang berkonsentrasi pada penanganan virus dan permasalahan jaringan. Pengelola jaringan lainnya mempunyai tugas tambahan sehingga tidak dapat terlalu terkonsentrasi dalam mengurus jaringan. Hal tersebut menyebabkan pekerjaan jaringan menjadi overload bagi pengelola jaringan.
  2. Penggunaan sistem heterogen antara OS (operating system) Microsoft Windows dengan Linux dimana OS Windows lebih banyak dibandingkan dengan OS linux: seiring dengan dikenalkannya IGOSS (Indonesia Goes to Open Source Software) maka diperkenalkan juga kepada client untuk menggunakan linux terutama Ubuntu. Kegiatan tersebut mempunyai keuntungan pada berkurangnya komputer yang komplain terhadap virus karena linux lebih tahan terhadap virus komputer. Tetapi permasalahan lain timbul yaitu pengelola jaringan juga harus melakukan troubleshooting dalam sosialisasi software-software open source pengganti software unlicensed yang ada di Windows yang biasa dipakai, bahkan akhirnya NSA bertugas untuk memberikan tutorial atau kursus singkat pada pengguna dan hal tersebut menjadi pekerjaan yang lebih berat lagi. Tahap ini sedang dijalankan di lingkungan Pusat Litbang SDA dan diharapkan berlanjut ke tahap berikutnya.
  3. Tahap ini merupakan tahap berikutnya yang akan dituju oleh Pusat Litbang SDA yaitu menggunakan sistem heterogen dimana OS linux lebih banyak digunakan dibandingkan OS Windows dan pengguna OS linux sudah lebih mengenal sistem operasi tersebut. Sehingga diharapkan permasalahan penyebaran virus dapat ditekan dan sosialisasi software-software open source juga tidak terlalu membebani pekerjaan jaringan.
KESIMPULAN:
  1. berdasarkan urutan tersebut sistem homogen dan heterogen dapat dimanfaatkan secara efektif apabila kondisi jaringan dan kondisi pengguna jaringan mendukung sistem yang digunakan. Misalnya pada saat pembangunan jaringan pertama kali maka disarankan menggunakan sistem homogen dengan sistem operasi yang biasa digunakan oleh calon pengguna jaringan. Pada saat pengguna jaringan sudah terbiasa dengan permasalahan jaringan maka dapat digunakan sistem heterogen dengan sistem operasi yang lebih stabil terhadap permasalahan jaringan seperti virus.
  2. Pada tahap penggunaan sistem heterogen diperlukan peningkatan kemampuan pengelola jaringan untuk troubleshooting pada beberapa sistem operasi atau merekrut pengelola jaringan baru yang menguasai sistem operasi yang lainnya. Hal tersebut terkadang bermasalah pada instansi-instansi tertentu karena penerimaan pegawai diatur oleh pusat pemerintahan. Sehingga belum tentu mendapat pegawai baru tetapi permasalahan terus bergulir, maka pengelola jaringan yang ada perlu meningkatkan kemampuannya untuk menangani permasalahan jaringan yang ada.
  3. Selain permasalahan teknis kedua sistem tersebut mempunyai permasalahan sosial juga sesuai dengan budaya yang ada pada sebuah perusahaan yang dikelolanya. Misalnya terdapat perbedaan penanganan permasalahan pada instansi yang mempunyai pegawai mayoritas usia lanjut dengan instansi yang mempunyai pegawai usia muda. Pada instansi yang mayoritas usia lanjut, pengguna jaringan akan sangat bergantung pada pengelola jaringan. Sedangkan bila instansi dengan mayoritas usia muda hanya perlu diberikan user manual penanganan (troubleshooting) lalu kirim melalui email sudah cukup.